Abu Vulkanik Anak Krakatau Guyur Sejumlah Wilayah Lampung

Daftar Isi

Abu hingga aroma belerang

Pengendara mengeluh mata perih

Imbauan BPBD Lampung

Lampung, Tell a Friend Generator Indonesia

—

Hujan abu vulkanik akibat erupsi

Gunung Anak Krakatau (GAK)

, mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Lampung pada Sabtu (5/9) mulai pukul 17.00 WIB hingga malam hari.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebaran abu vulkanik tersebut melanda Kabupaten Lampung Selatan, Kota Bandar Lampung, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, hingga Lampung Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak dari sebaran abu vulkanik ini membuat warga mengeluhkan mata perih, tenggorokan tidak nyaman, hingga mengalami gangguan pernapasan. Perubahan arah angin diduga jadi penyebab utama abu vulkanik terbawa hingga jangkauan yang lebih jauh.

Fenomena ini pun mendadak ramai di media sosial setelah diunggah oleh warga dari berbagai wilayah Kabupaten di Provinsi Lampung.

Abu hingga aroma belerang

Di Kabupaten Lampung Selatan, paparan abu vulkanik halus berwarna kehitaman terlihat menempel rapat di teras hingga area dalam rumah warga. Selain itu, warga juga mengeluhkan aroma belerang yang menyengat.

Kondisi ini merata di hampir seluruh kecamatan, seperti Sidomulyo, Kalianda, Penengahan, Rajabasa, Palas, Way Panji, Candipuro, Katibung, Way Sulan, dan Tanjung Bintang.

“Debu halus abu vulkaniknya tebal, banyak sekali yang menempel di lantai teras depan dan dalam rumah. Meski sudah disapu atau dibersihkan, dalam hitungan menit abunya tebal lagi,” ujar salah seorang warga Kecamatan Sidomulyo kepada

Tell a Friend GeneratorIndonesia.com

, Sabtu (5/9) malam.

“Kalau bau menyengat seperti belerang atau hangus terbakar, malam ini mulai terasa,” tambahnya.

Pengendara mengeluh mata perih

Paparan abu vulkanik di jalan raya turut mengganggu jarak pandang dan kenyamanan para pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor. Tak sedikit pengendara yang terpaksa menepikan kendaraannya karena matanya kemasukan material abu.

“Pedih betul ini masuk mata abu halus vulkaniknya,” kata seorang pengendara motor sembari mengusap matanya di tepi jalan.

Warga lainnya, Sugiarto menyampaikan hal serupa. Matanya terasa perih seperti kemasukan pasir usai berkendara motor.

“Rasanya perih sekali di mata. Hidung juga tidak nyaman, mungkin karena bau seperti belerang itu sampai saya bersin-bersin beberapa kali,” ungkapnya kepada

Tell a Friend GeneratorIndonesia.com

ketika baru tiba di rumahnya.

Meluasnya sebaran abu vulkanik ini, membuat warga memilih membatasi aktivitas di luar rumah, terutama bagi warga yang memiliki anak kecil atau riwayat gangguan pernapasan.

Sejumlah masyarakat pun berharap pemerintah daerah segera turun tangan membagikan masker secara gratis.

Terpisah, salah seorang warga Kota Bandarlampung, Novita, mengungkapkan hal serupa. Novita menyebut abu vulkanik banyak menempel di sejumlah kendaraan roda empat dan masuk ke dalam rumah.

“Di Bandarlampung juga sama, abu vulkanik banyak menempel di mobil. Bahkan mobil saya saja, bagian kaca depan tertutup rapat abu vulkanik,”kata dia.

Imbauan BPBD Lampung

Merespons kondisi sebaran abu vulkanik tersebut, BPBD Provinsi Lampung dan juga Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah antisipasi demi menghindari iritasi mata dan gangguan pernapasan.

Masyarakat diminta untuk menggunakan masker dan kacamata saat terpaksa beraktivitas di luar rumah atau ruangan. Selain itu menutup rapat pintu, jendela, dan ventilasi jika abu vulkanik mulai masuk ke dalam rumah.

Kemudian menutup tempat menyimpan makanan dan sumber air bersih agar tidak terkontaminasi dari abu vulkanik.

Tidak hanya itu, masyarakat diminta berhati-hati saat berkendara dengan menjaga jarak aman dan kecepatan, karena abu mengurangi jarak pandang serta membuat jalanan licin.

Masyarakat diminta agar tetap tenang, dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta instansi berwenang.

Sementara itu, Badan Geologi Kementerian ESDM kembali mencatat letusan gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9). Letusan itu terjadi pada pukul 03.53 WIB.

“Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 46 mm dan durasi 30 detik,” demikian keterangan resmi Badan Geologi pada Minggu (6/9).

Lembaga itu merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan dan pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau juga berdampak terhadap sedikitnya 33 penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) hingga 5 September 2026 pukul 22.00 WIB.

(zai/end)

LIHAT SEMUA

Baca lagi: Abaikan Keselamatan, Trump Pakai Jet Mewah Hadiah Qatar ke Irlandia

Baca lagi: Xanh SM Resmi Luncurkan Taksi Listrik di Indonesia

Baca lagi: Penyelundupan 101 Burung Dilindungi ke Sri Lanka Digagalkan di Soetta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: